Monday, March 11, 2013

Metode bermain peran (Role Play)

A. Pengertian role playing

Menurut Mansyur (dalam sagala, 2011:213), Role playing merupakan salah satu model pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk aktif dan kreatif.
Menurut Sardiman (dalam muslich, 2011:247) dalam suatu pembelajaran dimana siswa berperan aktif, yakni pembelajaran yang berpusat pada siswa akan memancing kreativitas siswa dengan adanya kegiatan bermain peran.
Role playing dapat memberikan kesenangan bagi siswa karena pada dasarnya model pembelajaran ini adalah permainan. Dengan bermain, siswa akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa.
Seperti yang diungkapkan oleh Jill Hadfield (dalam muslich, 2011:246) bahwa role playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan, dan sekaligus melibatkan unsur senang.

B. Langkah-langkah menurut para ahli

Model pembelajaran ini memiliki langkah-langkah dalam menyiapkan situasi bermain peran. Berikut adalah langkah-langkah yang disampaikan oleh Oemar Hamalik (2001:215-218) yaitu:
a) Persiapan dan instruksi
 Guru memiliki situasi bermain peran. Situasi-situasi masalah yang dipilih harus menitikberatkan pada peran, masalah dan situasi familier, serta pentingnya bagi siswa. Keseluruhan situasi harus dijelaskan, meliputi deskripsi tentang keadaan peristiwa, individu yang dilibatkan.
 Sebelum pelaksanaan bermain peran, siswa harus mengikuti pemanasan, latihan ini diikuti oleh semua siswa, baik yang berpartisipasi aktif ataupun pengamat aktif.
 Guru memberi instruksi khusus kepada peserta bermain peran, penjelasan meliputi latar belakang dan karakter dasar melalui tulisan dan lisan.
 Guru memberitahukan peran-peran yang akan dimainkan serta memberikan instruksi yang berkaitan dengan masing-masing peran kepada para audience. Dalam hal ini siswa dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pengamat dan kelompok spekulator.
 Kelompok 1 bertugas sebagai pengamat yang diamati: (1.) perasaan karakter individu, (2.) karakter-karakter khusus yang diinginkan dalam situasi, (3.) mengapa karakter merespon cara yang merekan lakukan.
 Kelompok II bertugas sebagai spekulator yang berupaya menanggapi bermain peran itu tujuan dan analisis pendapat. Tugas kelompok ini mengamati garis besar rangkaian tindakan yang telah dilakukan oleh karakter-karakter khusus.


b) Tindakan bermain peran dan diskusi
 Para aktor terus melakukan perannya sepanjang situasi bermain peran.
 Bermain peran harus berhenti pada titik-titik penting atau apabila terdapat tingkah laku tertentu yang menuntut dihentikannya permainan tersebut.
 Keseluruhan kelas selanjutnya berpartisipasi dalam diskusi yang terpusat pada situasi bermain peran. Masing-masing kelompok audience diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil observasi dan reaksinya. Para pemeran juga terlibat dalam diskusi tersebut. Diskusi dibimbing guru dengan maksud berkembang pemahaman tentang pelaksanaan bermain peran.
c) Evaluasi bermain peran
 Siswa memberikan keterangan, baik secara tertulis maupun dalam kegiatan diskusi tentang keberhasilan yang dicapai dalam bermain peran. Siswa diperkenankan memberikan komentar evaluatif tentang bermain peran, misalnya tentang makna bermain peran bagi mereka dan cara meningkatkan efektivitas bermain peran.
 Guru menilai efektivitas dan keberhasilan bermain peran. Dalam melakukan evaluasi ini guru dapat menggunakan komentar evaluatif dari siswa, catatan-catatan yang dibuat oleh guru selama berlangsungnya bermain peran. Berdasarkan bermain peran tersebut, guru dapat menentukan tingkat perkembangan individu, sosial dan akademiknya.
C. Kelebihan dan Kekurangan Role Playing
Kelebihan Role Playing:
Pada pelaksanaan metode bermain peran dalam pembelajaran terdapat beberapa kelebihan seperti yang disampaikan oleh Mansyur, (dalam sagala, 2011:213), yaitu:
1. Murid melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat bahan yang akan diperankan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian daya ingat murid harus tajam dan lebih lama.
2. Murid akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu bermain peran para pemain dituntut untk mengemukakan pemdapatnya sesuai dengan waktu yang teredia.
3. Bakat yang terpendam pada murid dapat dipupuk sehingga akan muncul atau timbul bibit seni dari sekolah.
4. Kerja sama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan baik.
5. Murid memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab bersama
6. Bahasa lisan murid dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain
Kekurangan Role Playing
1. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain peran mereka menjadi kurang aktif.
2. Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan.
3. Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit, menyebabkan gerak para pemain kurang bebas.
4. Kelas lain sering terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan dan sebagainya.
D. Kesimpulan
Dari materi yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa dalam langkah-langkah kegiatan bermain peran memiliki tiga tahapan yaitu persiapan, guru dan siswa melakukan latihan baik dalam hal menghafal dialog, ekspresi, maupun ketepatan siswa dalam membawakan perannya.
Sedangkan pada tahap tindakan guru mengarahkan, membimbing, dan mengawasi selama kegiatan bermain peran berlangsung.